BerandaKontak

kicau, menemukan kembali jalan bagi lagu anak

KICAU, Menemukan Kembali Jalan bagi Lagu Anak
Ilustrasi / Foto: Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen RI

Surakarta, Kemendikdasmen – Lagu anak tidak benar-benar hilang. Karya baru masih diciptakan, musisi masih menaruh perhatian pada dunia anak, dan berbagai lagu pembelajaran telah tersedia. Namun, ada persoalan yang belum selesai  yaitu lagu-lagu itu belum tentu sampai kepada anak-anak yang menjadi pendengarnya. Di tengah perubahan cara anak menikmati hiburan dan semakin beragamnya konten digital, memperkenalkan lagu anak  saat ini membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui program Karya Cipta Lagu Pembelajaran Anak Usia Dini (KICAU). Tidak hanya menghadirkan lagu-lagu edukatif, Kemendikdasmen juga berupaya memperluas pemanfaatannya agar dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran maupun aktivitas anak di rumah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggandeng musisi dan kreator konten dalam produksi video pemanfaatan lagu KICAU di Surakarta, 28–30 Oktober 2026.

Bagi Ria Enes, musisi yang telah berkarya di dunia lagu anak sejak 1991 melalui karakter Susan, perubahan media menjadi salah satu hal yang memengaruhi popularitas lagu anak. Dahulu, televisi menjadi ruang hiburan bersama keluarga. Lagu yang sering diputar dapat dikenal oleh banyak anak. Sekarang, anak-anak memiliki akses terhadap berbagai pilihan konten melalui gawai, dengan pilihan yang juga dipengaruhi oleh orang tua.

Menurut Ria, persoalannya bukan karena lagu anak tidak lagi diproduksi. Karya dan antusiasme terhadap lagu anak masih ada, tetapi hubungan antara pencipta dan pendengar perlu dibangun kembali.

“Produksi lagu anak itu terus ada. Antusiasme juga ada. Sebetulnya banyak, tetapi mungkin kurang tersosialisasi dengan bagus. Kita kehilangan jembatan. Produksi ada, anak-anak butuh, tetapi kok tidak nyambung. Berarti harus disambung jembatan,” kata Ria.

Ia juga mengingatkan bahwa lagu mempunyai fungsi yang lebih luas daripada hiburan. Bernyanyi bersama dapat menjadi cara orang tua membangun kedekatan dengan anak. Lagu juga dapat membantu mencairkan suasana dan memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri.

Pandangan serupa disampaikan Elsa Sigar, musisi yang peduli terhadap perkembangan anak usia dini. Ia melihat perubahan lanskap media membuat lagu anak tidak lagi memiliki saluran penyebaran seperti pada masa ketika program televisi anak banyak ditonton keluarga. Karena itu, menurut Elsa, memperkenalkan lagu anak perlu menjadi pekerjaan bersama, termasuk melalui sekolah dan berbagai kegiatan di daerah. “Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Bagaimana caranya supaya lagu anak ini bisa sampai kepada anak-anak? Kita perlu menyosialisasikannya melalui berbagai cara, bisa melalui media sosial, lomba menyanyi, gerak dan lagu, maupun kegiatan lainnya di daerah,” ujar Elsa.

(Ki-ka : Musisi Dea Mirella, Ria Enes, dan Elsa Sigar berkolaborasi dalam produksi video pemanfaatan lagu-lagu KICAU di Surakarta) Musisi Ria Enes, Elsa Sigar, dan Dea Mirella berkolaborasi dalam produksi video pemanfaatan lagu-lagu KICAU di Surakarta. Kolaborasi ini diharapkan dapat membawa lagu anak lebih dekat dengan keseharian anak, baik di rumah maupun di satuan pendidikan.

 

Elsa juga menilai lagu-lagu KICAU yang telah tersedia perlu lebih dahulu diperkenalkan secara luas. Dengan begitu, perhatian tidak hanya tertuju pada penciptaan lagu baru, tetapi juga pada pemanfaatan karya yang sudah ada.

Sementara itu, Dea Mirella, vokalis grup musik Warna, memberikan perhatian pada proses penciptaan lagu. Menurutnya, lagu anak harus dibuat dengan mempertimbangkan kemampuan anak dalam memahami lirik dan mengikuti melodi. Lagu yang baik bukan semata-mata menunjukkan kemampuan vokal penyanyinya, tetapi juga mampu diterima oleh pendengarnya. "Jangan melihat dari penyanyinya yang sudah jago menyanyi, tetapi lihat pendengarnya. Anak-anak bisa menangkap atau tidak melodinya, lalu isi lagunya sampai atau tidak kepada mereka,” kata Dea.

Dea menilai lagu anak tetap dapat dikemas dengan aransemen musik yang modern dan berkualitas. Namun, lirik dan melodinya perlu tetap sederhana agar mudah dipahami dan diingat anak. Ia juga berharap kesempatan menciptakan lagu anak dapat terbuka bagi lebih banyak penulis lagu, termasuk musisi independen.

Dari sisi distribusi konten, Nadhira dan Dane, kreator konten yang juga Duta Bahasa, mengusulkan pendekatan yang tidak selalu berupa promosi langsung. Lagu KICAU dapat diperkenalkan melalui konten keseharian, perjalanan, atau aktivitas yang menarik bagi audiens, dengan lagu sebagai musik latar. Setelah audiens mulai mengenal lagunya, informasi mengenai pesan dan pemanfaatannya dapat disampaikan lebih lanjut.

Dalam kegiatan produksi tersebut, para musisi dan kreator konten membuat materi video di sejumlah lokasi, antara lain Keraton Surakarta Hadiningrat dan Museum Lokananta. Konten ini diharapkan menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan lagu KICAU melalui format yang lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat dalam mengakses media digital.

Lagu-lagu KICAU mengangkat beragam tema, mulai dari sains, literasi, numerasi, alam, hingga karakter. Tema-tema tersebut dapat dimanfaatkan guru sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran anak usia dini maupun oleh orang tua saat mendampingi anak di rumah.

Pada akhirnya, lagu pembelajaran menemukan maknanya ketika digunakan. Ketika guru memutarnya di kelas, orang tua menyanyikannya bersama anak, atau anak mulai mengingat dan menyanyikan liriknya dalam aktivitas sehari-hari, di situlah KICAU menjadi bagian dari pengalaman belajar. Tantangannya bukan hanya menciptakan lagu, tetapi menghubungkannya kembali dengan dunia anak. (Penulis: Rona Uly N./Editor: Denty A./Fotografer: Tim GTK)

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah
#2TahunGerakNyata
#2TahunPendidikanBermutu

 

 

 

 

 

 

 

Informasi Sumber Resmi:
Artikel ini disinkronkan langsung dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) .