QALAMDAN GURU HAJI ISMAIL MUNDU
Qalamdan Guru Haji Ismail Mundu merupakan benda bergerak berupa wadah tradisional alat tulis yang digunakan dalam aktivitas menulis dan mengajar pada tradisi keilmuan Islam. Qalamdan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan pena (qalam) dan tinta, yang pada masanya menjadi perlengkapan utama ulama dan guru agama dalam penulisan naskah, pencatatan ilmu, serta kegiatan pengajaran. Keberadaan qalamdan ini memiliki keterkaitan langsung dengan peran Guru H. Ismail Mundu sebagai tokoh penyebaran Islam dan pendidik agama di wilayah Teluk Pakedai dan sekitarnya.
Bentuk qalamdan ini memanjang horizontal dengan dua bagian utama yang menyatu, yaitu tabung pena dan wadah tinta. Tabung pena berbentuk silinder memanjang dengan ujung membulat pada kedua sisi, dirancang untuk melindungi dan menyimpan pena agar tetap rapi dan aman. Panjang tabung pena kurang lebih 25,5 cm, dengan lebar sekitar 5 cm dan ketebalan kurang lebih 1 cm, menunjukkan ukuran yang proporsional dan mudah dibawa. Pada salah satu sisi tabung pena terdapat wadah tinta berbentuk kotak membulat dengan sudut tumpul, berukuran panjang sekitar 8 cm, lebar 5 cm dan tinggi kurang lebih 5 cm. Wadah tinta ini dilengkapi dengan penutup berengsel yang berfungsi mencegah tinta mengering atau tumpah, sekaligus menunjukkan tingkat ketelitian dalam perancangan benda.
Bahan utama qalamdan ini adalah logam, yang diduga merupakan campuran kuningan atau perunggu, bahan yang lazim digunakan untuk pembuatan qalamdan karena memiliki daya tahan tinggi dan tidak mudah rusak oleh cairan tinta. Warna permukaan benda didominasi nuansa abu-abu kecokelatan hingga kehijauan, yang merupakan patina alami akibat proses oksidasi dan penggunaan jangka panjang. Patina tersebut menjadipenanda usia dan keaslian benda, serta memperkuat nilai historisnya sebagai alat tulis yang benar-benar digunakan dalam aktivitas keilmuan.
Dari sisi teknologi, qalamdan ini dibuat dengan teknik pengerjaan logam tradisional, kemungkinan melalui proses pengecoran untuk membentuk badan utama tabung dan wadah tinta, kemudian dilanjutkan dengan pembentukan manual dan penyambungan antarbagian. Pemasangan engsel pada penutup wadah tinta menunjukkan penguasaan teknik mekanis sederhana namun presisi, yang umumnya ditemukan pada benda logam praindustri atau awal masa industri. Permukaan benda tampak dihaluskan secara manual dan tidak menunjukkan jejak produksi mesin modern.
Berdasarkan tipologi bentuk, bahan, serta perbandingan dengan qalamdan serupa yang tersimpan di berbagai koleksi museum Islam, jenis qalamdan seperti ini banyak digunakan dan populer pada periode abad ke-18 hingga awal abad ke-20 Masehi. Rentang waktu tersebut sejalan dengan masa hidup dan aktivitas keilmuan Guru Haji Ismail Mundu, sehingga secara kronologis qalamdan ini sangat relevan sebagai peninggalan yang merepresentasikan tradisi tulis, pengajaran, dan penyebaran Islam di Kalimantan Barat. Gaya qalamdan yang sederhana dan fungsional mencerminkan karakter ulama yang menekankan kegunaan, ketekunan, dan nilai ilmu pengetahuan dibandingkan unsur dekoratif semata.
Sejarah
Menurut penuturan lisan yang berkembang di lingkungan keluarga dan murid, pada ujung akhir hayatnya, Guru Haji Ismail Mundu menyerahkan qalamdan ini kepada salah seorang murid kepercayaannya, yaitu Guru H. Ibrahim bin H. Basyir. Penyerahan tersebut tidak semata-mata bersifat pemberian benda, melainkan dimaknai sebagai simbol estafet keilmuan dan pengajaran agama Islam, menandai kelanjutan peran Guru H. Ibrahim sebagai penerus dakwah dan pendidikan Islam di wilayah tersebut. Tradisi pewarisan alat tulis seperti qalamdan ini mencerminkan nilai penting dalam budaya pesantren dan pengajaran Islam, di mana ilmu diwariskan secara sanad, baik melalui ajaran lisan maupun simbol-simbol material.
Riwayat kepemilikan qalamdan ini diperkuat oleh keterangan lisan Ummi Halbani, putri dari Guru H. Ibrahim bin H. Basyir, serta oleh keterangan para kerabat dan murid-murid Guru H. Ibrahim. Mereka menyampaikan bahwa qalamdan tersebut disimpan dengan penuh penghormatan sebagai benda pusaka keluarga sekaligus penanda hubungan keilmuan antara Guru Haji Ismail Mundu dan muridnya. Selama bertahun-tahun, benda ini dijaga dan dirawat, tidak lagi digunakan sebagai alat tulis aktif, melainkan sebagai peninggalan bersejarah yang sarat makna religius dan pendidikan.
Saat ini, qalamdan Guru Haji Ismail Mundu disimpan dan dipamerkan di ruang galeri Guru H. Ismail Mundu, Masjid Nasrullah (Masjid Batu), Desa Selat Remis, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya. Penempatan qalamdan di ruang galeri masjid mempertegas fungsinya sebagai benda memorial dan edukatif, yang tidak hanya merepresentasikan aktivitas tulis seorang ulama, tetapi juga menjadi saksi sejarah kesinambungan tradisi keilmuan Islam lokal. Dengan kondisi yang masih utuh dan terawat, qalamdan ini menjadi bukti material penting dari sejarah pendidikan, agama, dan kebudayaan Islam di daerah tersebut







