Download SK Cagar Budaya Makam Guru Haji Ismail Mundu

Ismail Mundu berasal dari keturunan raja Sawitto di Sulawesi Selatan. Kerajaan pertama yang berdiri di Sulawesi Selatan pada awal abat ke 14 adalah kerajaan “Luwu” yang mana sebelumnya bernama kerajaan “Ussu” yang diperintah oleh Dinasti Tamanurung Simpuru Siang.

Pada abad ke XVI dapat dikatakan sebagai abad penyebaran Agama Islam. Guru Haji Ismail Mundu lahir pada tahun 1287 H. bertepatan dengan tahun 1870 M dari pernikahan seorang Mursyid Thariqah Abdul Qadir Jailani yang berasal dari Bugis dengan seorang putri yang bernama Zahra (wak Soro) berasal dari daerah Kakap Kalimantan Barat.

Adapun ayah beliau bernama Daeng (gelar yang diberikan kepada kaum bangsawan suku Bugis) Abdul Karim alias Daeng Talengka bin Daeng Palewo Arunge Lamongkona bin Arunge Kacenang Appalewo bin Arunge Betteng Wajo’ Sulawesi Selatan keturunan Maduk Kelleng. Dengan demikian, Beliau masih memiliki keturunan (nasab) salah seorang raja pada suatu kerajaan di Sulawesi Selatan.

Walaupun demikian, H. Ismail Mundu lebih banyak berkiprah di Kalimantan Barat dari pada di tempat leluhur beliau yakni Sulawesi Selatan. Selain sebagai ulama yang menulis beberapa Kitab kitab, Guru Haji Ismail Mundu diberi amanah menjabat sebagai seorang Mufti Kerajaan Kubu pada masa Raja Sy Saleh Al Idrus, adapun Kitab kitab yang ditulis beliau antara lain : Jadwal Hukum Nikah, Kitab Mukhtashar Aqaid, Mukhtasarul Manan dan lain lain.

Tuan Guru Ismail Mundu juga menjadi tokoh pemrakarsa dibangunya masjid Nasrullah atau yang dikenal dengan Masjid Batu di Desa Selat Remis Kecamatan Teluk Pakedai. Selama menjadi Mufti Kerajaan Kubu dan Ulama Tuan Guru Pernah Menerima dan Bertemu dengan Tokoh penting baik Nasional maupun dari negara lain diantaranya adalah Mufti Kerajaan Johor, Ketua Ikatan Kadi Singapura, Imam Madinah SYEKH ABDUSSAMAD, Mufti Mekah AL Mukarramah SYEKH ABDULLAH AZZAWAWI, Sultan dari Kerajaan Kadriah Pontianak yang k 6 SULTAN SYARIF MUHAMMAD AL KADRIE BIN SYARIF YUSUF AL KADRIE dan utusan Presiden Soekarno.