SAMPAN JALUR GURU HAJI ISMAIL MUNDU
Download SK Cagar Budaya Sampan Jalur Guru Haji Ismail Mundu
Sampan Jalur Guru Haji Ismail Mundu merupakan sebuah perahu atau sampan panjang tradisional yang terbuat dari satu batang pohon kayu ulin utuh yang dibelah menjadi dua. Panjangnya 7,97 meter, dengan tinggi dari dari dasar ke bibir sampan 32 cm, dengan lebar tengah sepanjang 106 cm. Pada bagian dasar sampan terdapat 22 batang batang kayu yang dipasang melintang, kayu-kayu ini berfungsi sebagai tulang untuk meletakan papan sebagai tempat duduk.
Kondisi sampan saat ini mengalami banyak kerusakan. Terdapat lubang memanjang di bagian bawahnya yang membuatnya tenggelam jika dipergunakan. Selain itu, pada bagian sampingnya dipasangi beberapa pasak dan kayu untuk menahan badan perahu yang semakin merekah dan terbelah.
Sampan jalur yang saat ini disimpan di Galeri Haji Ismail Mundu, Masjid Batu Nasrullah, Desa Selat Remis, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, merupakan tinggalan budaya yang memiliki keterkaitan erat dengan tokoh ulama besar Kalimantan Barat, Guru Haji Ismail Mundu. Berdasarkan penuturan lisan dari masyarakat dan pemilik sebelumnya, sampan ini diperkirakan telah digunakan sejak sekitar tahun 1904 M, bertepatan dengan periode awal Guru Haji Ismail Mundu memutuskan untuk berdomisili di wilayah Teluk Pakedai.
Pada awal abad ke-20, kondisi geografis Teluk Pakedai yang didominasi oleh sungai, rawa, dan jalur perairan menjadikan sampan sebagai sarana transportasi utama masyarakat. Guru Haji Ismail Mundu, dalam kapasitasnya sebagai ulama, pendakwah, dan Mufti Kerajaan Kubu, sangat bergantung pada transportasi air untuk menjalankan aktivitas dakwah, pengajaran agama, serta mobilitas sosial di wilayah pesisir dan daerah aliran sungai. Sampan jalur ini diyakini menjadi salah satu sarana yang digunakan beliau dalam mendukung aktivitas tersebut.
Haji Ismail Mundu, dalam kapasitasnya sebagai ulama, pendakwah, dan Mufti Kerajaan Kubu, sangat bergantung pada transportasi air untuk menjalankan aktivitas dakwah, pengajaran agama, serta mobilitas sosial di wilayah pesisir dan daerah aliran sungai. Sampan jalur ini diyakini menjadi salah satu sarana yang digunakan beliau dalam mendukung aktivitas tersebut.
Menurut keterangan Abdul Rahim, warga Desa Selat Remis yang merupakan menantu dari Tok Wero, sampan tersebut dibeli langsung dari Guru Haji Ismail Mundu oleh ayah mertuanya pada sekitar tahun 1970-an dengan harga 100 rupiah. Transaksi ini tidak hanya mencerminkan nilai ekonomi pada masanya, tetapi juga menunjukkan hubungan kedekatan dan kepercayaan antara masyarakat dengan tokoh ulama yang sangat dihormati di Teluk Pakedai.
Setelah berpindah kepemilikan, sampan jalur tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari keluarga Tok Wero dan kemudian diwariskan kepada Abdul Rahim. Sampan ini terus dimanfaatkan sebagai alat transportasi air hingga tahun 2015 M, menunjukkan keberlanjutan fungsi dan daya tahan teknologi perahu tradisional yang telah berusia lebih dari satu abad.





